Mengembalikan Khitah Sekolah

Oleh: Moh. Mursyid

Pustakawan Perpustakaan Emha Ainun Nadjib

Belum lama ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan kembali mengingatkan kepada seluruh jajaran pendidikan di Tanah Air agar menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa. Mendikbud juga mengutarakan bahwa lembaga pendidikan harus meniru filosofi yang telah digagas oleh Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menjadikan lembaga pendidikannya sebagai taman, yaitu tempat yang penuh kebahagiaan dan kesenangan dalam belajar (Republika, 26/01/2015).
Apa yang dikatakan oleh Mendikbud ini harus diapresiasi. Bagaimanapun, potret sekolah dewasa ini masih jauh dari kesan menyenangkan bagi siswa. Beberapa waktu yang lalu misalnya, beragam kasus yang merenggut masa depan anak justeru terjadi di sekolah. Mulai dari kasus asusila oleh oknum guru hingga kekerasan antar pelajar. Mendikbud menyatakan bahwa pada bulan Oktober dan November 2014 tercatat ada 230 kasus kekerasan terhadap pelajar (Kompas, 1/12/14).
Hal ini membuktikan bahwa sekolah tidak hanya belum mampu menjadi tempat yang aman dan menyenangkan untuk belajar para siswa, tetapi juga belum dapat menanamkan nilai-nilai luhur atau budi pekerti dengan baik. Ironis.

Oase Keilmuan

Pada dasarnya, sekolah harus mampu menjadi oase bagi dahaga keilmuan bagi para siswa. Sebagaimana yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, sekolah adalah sebuah taman di mana seorang siswa dapat memilih dan memetik buah dan bunga sesuai dengan keinginannya. Obyek dari pendidikan adalah manusia, jadi proses pembelajaran yang ada di sekolah haruslah mengakomodir nilai-nilai kemanusiaan (memanusiakan manusia seutuhnya).
Konsep pendidikan yang menyenangkan layaknya sebuah taman, selain ditanamkan oleh Ki Hajar Dewantara, sebelumnya telah diterapkan oleh Gurudev Rabindranath Tagore, seorang penyair masyhur di India. Pada tahun 1901 ia mendirikan Ashram Shantiniketan di India yang kini berubah menjadi Universitas Internasional Visva Bharati. Ashram Shantiniketan adalah semacam sekolah dengan asrama yang diciptakan dengan suasana kedamaian.
Lewat model pendidikan ini, mampu melahirkan sosok besar seperti Indira Gandhi (Meteri India), dan Amatya Sen (intelektual ekonom India dan peraih nobel). Selain itu, banyak pengajar terkenal dari seluruh dunia yang kemudian datang dan mengajar di universitas tersebut.
Kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Proses pendidikan di Indonesia selama ini masih berlaku dengan sistem tanam buah. Secara sederhana, buah dapat dimaknasi sebagai produk jadi dari sebuah proses, sehingga siswa hanya disuguhi dengan produk jadi yang berwujud mata pelajaran dan rumus-rumus tanpa tau bagaimana prosesnya awal terjadinya. Representasi seorang siswa akan sama persis dengan apa yang disampaikan oleh gurunya. Hal ini pula yang menyebabkan kreatifitas anak tidak berkembang dan terjadi kejumudan.
Romo Mangung Wijaya dalam Toto Rahardjo (2014) sudah pernah mengingatkan bahwa sekolah harus bersifat integral menuju ke manusia yang seutuhnya. Dalam hal ini, watak dan karakter menjadi hasil primer dari pendidikan. Kecerdasan dan keterampilan adalah hal penting dalam pembelajaran, namun selama proses pendidikan tersebut tidak mampu mendidik siswa menjadi manusia yang budiman, maka proses pendidikan tersebut harus dinamakan gagal.

Sosok Guru

Untuk mewujudkan sekolah layaknya sebuah taman adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen pendidikan yang ada di sekolah. Sosok guru adalah sosok kunci yang memegang peran penting dalam proses pembelajaran tersebut. Sosok guru yang kreatif, terbuka (open mind) terhadap perubahan sangat dibutuhkan.
Melalui tangan para guru inilah nantinya yang akan menentukan suasana sekolah apakah layaknya sebuah taman atau penjara yang membelenggu anak dari kreatifitas. Menarik dan tidaknya sebuah proses pembelajaran tidak semata bertumpu pada buku teks pelajaran, melainkan bertumpu pada sosok guru yang mampu menyampaikan dengan menarik dan kreatif sehingga anak-anak menjadi lebih semangat dalam belajar.
Dengan demikian, sekolah akan mampu menjadi pintu gerbang bagi para generasi penerus bangsa menuju manusia seutuhnya yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur. Bisakah hal tersebut kita wujudkan? Di sinilah kita perlu melihatnya kembali dalam upaya mengembalikan esensi pendidikan kepada khitah yang sesungguhnya, yaitu menjadi taman yang akan mewujudkan manusia seutuhnya. Semoga!

Dimuat di OPINI Harian Galamedia 16 Februari 2015

Sumber : Harian Galamedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *