Sinergi Kepustakawanan

Oleh: Sarwono

Pustakawan UGM, Ketua PD Ikatan Pustakawan Indonesia DIY

Terdapat berbagai macam definisi kepustakawanan. Menurut Sulistyo-Basuki (1993) kepustakawanan (Librarianship) adalah penerapan pengetahuan (dalam hal ini ilmu perpustakaan) hal pengadaan, penggunaan serta pendayagunaan buku (dalam arti luas) di perpustakaan serta jasa perpustakaan.

Sedangkan Lasa Hs. (2009) mendefinisikan kepustakawanan (Librarianship) adalah ilmu dan/atau profesi di bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Sedangkan Purwono (2014) menyatakan bahwa kepustakawanan adalah hal-hal yang berkaitan dengan pustakawan, seperti profesi kepustakawanan dan penerapan ilmu, misalnya dalam hal pengadaan koleksi, pengolahan, pendayagunaan dan penyebaran informasi kepada pemakai.

Dari beberapa pengertian, kepustakawanan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan kepustakawanan meliputi pendayagunaan berbagai macam jenis perpustakaan dan pemustakanya, profesi pustakawan dan kegiatan yang berhubungan dengan perpustakaan dan informasi. Misalnya kegiatan peningkatan minat baca, pengenalan perpustakaan, koleksi perpustakaan dan bagaimana memanfaatkan perpustakaan.

Melihat begitu banyaknya kegiatan dan aktivitas kepustakawanan, tentu tidak akan mampu dilaksanakan oleh pustakawan sendiri. Oleh karena itu diperlukan organisasi atau asosiasi yang akan mengelola berbagai kegiatan kepustakawanan.

Organisasi profesi dan asosiasi kepustakawanan

Saat ini terdapat berbagai macam organisasi terkait kepustakawanan dengan anggota dan fokus kegiatan yang berbeda-beda. Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) merupakan organisasi profesi para pustakawan. Salah satu bentuk kegiatan IPI adalah mengadakan dan ikut serta dalam berbagai kegiatan ilmiah di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi di dalam dan luar negeri.

Karena IPI merupakan organisasi profesi pustakawan, maka wajar jika kegiatan IPI menitikberatkan pada peningkatan profesionalisme pustakawan. Jika IPI mewadahi seluruh pustakawan, maka terdapat pula asosiasi yang mengkhususkan diri pada pustakawan sekolah/tenaga perpustakaan sekolah. ATPUSI (Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia) adalah salah satunya.

ATPUSI menyelenggarakan berbagai macam kegiatan untuk meningkatkan kapasitas pustakawan sekolah dan perpustakaan sekolah. Pustakawan sekolah diwadahi dalam ATPUSI, maka perpustakaan sekolah sebagai lembaga/institusi pun tergabung dalam asosiasi yang dikenal dengan FPSI yaitu Forum Perpustakaan Sekolah Indonesia. Sedangkan untuk tingkat perguruan tinggi terdapat Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) dan Forum Kerja Sama Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri.

Dalam hal minat baca masyarakat, kita mengenal Gerakan Peningkatan Minat Baca yang biasa dikenal sebagai GPMB. Organisasi ini berkonsentrasi dalam bidang peningkatan minat baca masyarakat. Kegiatan GPMB menyentuh sampai lapisan masyarakat di pedesaan. Keberhasilan gerakan ini tentu berpengaruh terhadap kunjungan ke perpustakaan. Mengapa perpustakaan?

Karena perpustakaan merupakan salah satu penyedia bahan bacaan bermutu bagi masyarakat. Manakala masyarakat tidak sempat membeli bahan bacaan, maka perpustakaan menjadi salah satu solusi.

Berbagai macam organisasi tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu memajukan dunia perpustakaan dan informasi serta hal-hal yang berkaitan dengannya termasuk pustakawan sebagai pelaku dunia kepustakawanan. Yang membedakan adalah titik tekan atau prioritas kegiatan.

Namun demikian, mungkin saja terjadi tumpang tindih kegiatan sehingga menjadikan satu bagian kepustakawanan sarat dengan berbagai aktivitas, tetapi di bagian lain kurang kegiatan maupun kurang perhatian. Oleh karena itu diperlukan sebuah sinergi kepustakawanan.

Sinergi kepustakawanan

Sinergi menurut Deardorff dan Williams (2006) adalah sebuah proses di mana interaksi dari dua atau lebih agen atau kekuatan akan menghasilkan pengaruh gabungan yang lebih besar dibandingkan jumlah dari pengaruh mereka secara individual.

Atau dapat dikatakan bahwa pengertian sinergi adalah membangun dan memastikan hubungan kerja sama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas. Sementara itu sinergisitas diartikan sebagai proses memadukan beberapa aktivitas dalam rangka mencapai satu hasil yang berlipat.

Melihat banyaknya kegiatan kepustakawanan dan berbagai macam organisasi maupun asosiasi yang ada, maka sinergi kepustakawanan selayaknya dilakukan. Kekuatan berbagai macam organisasi tentu akan lebih kuat dalam menjalankan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan.

Perbedaan latar belakang organisasi dan prioritas masing-masing organisasi justru akan menambah dan melengkapi kegiatan yang ada. Setiap organisasi baik IPI, ATPUSI, FPSI dan sebagainya melakukan kegiatan yang berbeda untuk saling melengkapi dan memperkaya khazanah kepustakawanan.

Sinergi kepustakwanan ini akan dapat berlangsung dengan baik, jika terjalin komunikasi dan interaksi yang intensif antarorganisasi kepustakawanan yang ada. Sarasehan, diskusi, seminar bersama, maupun pertemuan informal lainnya dapat dilakukan sebagai awalan merajut sinergi. Sinergi kepustakawanan tidak sekadar kerja sama namun saling mengisi, melengkapi dan menguatkan.

Dipublikasikan pertama kali di Harian Bernas pada 14 September 2016

Sumber : https://www.harianbernas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *