Bedah Buku “SARINAH” : Kewajiban wanita dalam perjoeangan RI dituliskan Ir Soekarno

Bedah buku merupakan salah satu aktivitas kegiatan pustakawan sebagai bagian dari upaya peningkatan minat baca bagi masyarakat. Pelaksanaan Bedah buku ini dilaksanakan di  Auditorium Lantai 1 Gedung Ghratama Pustaka, Janti, Banguntapan, Bantul. Acara dilaksanakan pada hari Rabu 8 Februari 2017 dengan 3 pembedah diantaranya: Dr Hj Yuni Satia Rahayu (wakil bupatiSleman yang menjabat pada periode 20102015, aktivis LSM yang tertarik dengan pemenuhan hak-hak perempuan) , Wahyudi Djaja, S.S., M.Pd. (Dosen UGM), Tustiyani, S.H.(DPRD dari fraksi PDIP Bantul), dan di moderatori oleh Dra. Monika Nur Lastiyani dari BPAD DIY.Direncanakan akan ada 16 kali bedah buku akan dilaksanakan, dua bedah buku dilakukan di Ghratama Pustaka, sedang 14 lainnya akan dilaksanakan perpustakaan-perpustakaan desa di lingkungan DIY.

“Kami berusaha menyambungkan info terbaru dari penulis dan penerbit ke masyarakat luas. Dimana selama ini buku hanya tersedia di toko buku yang tak terjangkau masyarakat desa,” kata Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Daerah BPAD DIY, Bambang Budi Sulistyo. Diharapkan bedah buku tersebut sampai pada sasaran yang tepat yakni masyarakat yang berada di desa

Pembedah pertama, Yuni Satia Rahayu, menguraikan bahwa untuk memahami buku Sarinah memang diperlukan waktu berulang-ulang, karena menggunakan istilah-istilah yang Soekarno pahami sendiri. Namun inti dari buku Sarinah terungkap yaitu keinginan Soekarno untuk berkomitmen memberikan pencerahan bagi perempuan Indonesia melalui Sarinah. “Sarinah adalah pemikiran Bung Karno yang cukup lama tentang perempuan. Sarinah lah yang membangun komitmen bahwa bung Karno harus mendukung dan membela wong cilik,”. Di masa Soekarno di 22 Desember 1928 muncul adanya Konggres Perempuan I dengan tema”jangan bergelut pada ke perempuan an” artinya perempuan harus mengikuti kursus-kursus, jangan hanya di dapur saja. Seperti ajaran Soekarno bahwa “perempuan adalah tiang negeri”. Setelah Konggres Perempuan I, diteruskan dengan Konggres Perempuan II yaitu perempuan Indonesia adalah setara dengan pria, sedangkan Konggres Perempuan ke 3 yaitu perempuan ke arah melakukan aktivitas sosialis. Masyarakat sosial dengan ide ide feminisme. Juga disebutkan dalam buku adanya peralihan dari masyarakattradisonal ke masyarakat modern.

Seperti yang dicontohkan Sukarno ketika ia datang bertamu kerumah kenalannya, dimana kenalannya itu begitu mudahnya berbohong di depan isterinya yang menyatakan bahwa isterinya tidak ada di rumah sementara isterinya dibiarkan mengintip dari balik tirai pintu. Dari contoh di atas dapat terlihat jelas bahwa peran perempuan Indonesia memang masih sangat jauh dari kemerdekaannya akibat pengekangan-pengekangan yang dilakukan oleh suaminya sendir

Bedah buku kedua ini dilaksanakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (BPAD DIY), setelah sebelumnya telah membedah buku berjudul 50 Kisah Tentang Buku, Cinta dan Cerita di Antara Kita beberapa waktu lalu, kini dengan tema, pembahasan, serta pembedah yang berbeda.

“Kali ini dengan tema melawan lupa, bahwa proklamator kita pernah menulis tentang perempuan, dengan tokoh inspirasinya yakni Sarinah,” katanya.

Pembedah buku kedua, Tustiyani mengatakan bahwa membedah Sarinah yakni untuk memberikan inspirasi perempuan Indonesia agar tidak hanya berada di jalur domestik saja. Namun juga berkiprah dan beraktualisasi di segala bidang untuk membangun bangsa lebih baik lagi. Apalagi di era modern ini keterlibatan perempuan di bidang politik juga diberi kesempatan.

Acara bedah buku tersebut diikuti oleh beberapa perwakilan instansi Pemda DIY, Struktural BPAD DIY, Organisasi Wanita, Dinas Perpustakaan dan Arsip Kab/kota, Ikatan Pustakawan Indonesia, pemerhati perpustakaan, mahasiswa dan serta masyarakat umum. Pembedah terakhir, Wahyudi Djaja, mengatakan Buku Sarinah merupakan buku yang mengulas tentang perempuan. Salah satunya menceritakan sosok Sarinah yang merupakan pengasuh Ir Soekarno sejak usia enam tahun. Bagi Soekarno, Sarinah lebih dari sekedar pembantu rumah tangga atau istilah lain asisten rumah tangga dan pengasuh untuk dirinya. Namun lebih jauh, Soekarno menganggap Sarinah menjadi salah satu wanita yang berperan banyak dalam berubah hidup Soekarno dalam banyak hal yang diajarkan beberapa di antaranya yakni terkait nasehat agar Soekarno dapat selalu menghargai perempuan dan wong cilik, juga tentang pendidikan budi pekerti luhur.

Sampai akhirnya Soekarno berkomitmen untuk selalu membela masyarakat kecil. Sarinah adalah seseorang yang memberikan kasih sayang tanpa mengharap balasan dari orang yg disayanginya.

“Bagi Soekarno, sosok ibu pertiwi ada pada diri Sarinah. Bukan hanya sekedar ‘mbok’ saja tapi selalu menuntun langkah soekarno untuk bergerak melakukan perubahan,” kata Wahyudi.

Buku Sarinah berisi enam bab yang seluruhnya berbicara tentang perempuan. Buku itu merupakan karya Soekarno yang sempat ia tulis selama kurun waktu dua tahun lamanya dan diterbitkan pada tahun 1947 di tengah konflik melawan penjajah. Pada buku tersebut juga dikisahkan bagaimana Soekarno dalam perannya mendukung perempuan Indonesia yakni dengan memberikan kursus wawasan politik perempuan setiap dua minggu sekali di Jogjakarta pada masa itu.

Soekarno dalam buku Sarinah ini menyinggung juga bahwa Sukarno pada dasarnya bukanlah pecinta matriarchat, Sukarno mengakui dia adalah pecinta patriarchat, karena kodrat alam menetapkan patriarchat lebih utama daripada matriarchat. Kodrat menetapkan hukum keturunan lebih selamat dengan hukum perbapakan dibandingkan peribuan. Sebab dengan patriarchat maka perempuan hanya diperisteri oleh satu orang laki-laki, dan tidak lebih. Dengan begitu maka orang dapat mengetahui secara pasti siapa ibunya dan siapa bapaknya. Tetapi dalam matriarchat, orang hanya tahu pasti siapa ibunya, tetapi tidak yakin siapa bapaknya. Walaupun Sukarno pecinta patriarchat, Sukarno tetap menginginkan suatu sistem patriarchat yang adil, yang tidak menindas kaum perempuan.

Sarinah dijadikan inspirasi yang nyata bagi perempuan Indonesia untuk bergerak dan berjuang sebagai revolusioner yang memiliki tujuan untuk mensejahterakan kehidupan.

“Dan kamu, kaum wanita Indonesia, akhirnya nasibmu adalah di tangan kamu sendiri. Kamu harus menjadi sadar, kamu sendiri harus terjun mutlak dalam perjuangan,” kata Wahyudi mengutip pesan Soekarno dalam Sarinah.(Uminurida S/UGM)

2 thoughts on “Bedah Buku “SARINAH” : Kewajiban wanita dalam perjoeangan RI dituliskan Ir Soekarno

  1. Emansipasi wanita. Wanita adalah tiang negara. jadi tidak ada salahnya wanita sebagai pemimpin dan berkarya. bahkan sangat di acungkan jempol dan diberi tepuk tangan yang gemuruh akan hal itu.
    Bagaimana arti dari perjuangan seorang wanita di negara RI???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *