Bedah Isi Cerita Buku, Hadirkan Pengalaman Empiris bagi Anak-Anak

Membangkitkan gerakan cinta membaca bukanlah hal mudah. Butuh cara baru yang unik, sekaligus menarik untuk memikat generasi muda gemar membaca. Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Sleman A.A. Ayu Laksmidewi punya resepnya.

DWI AGUS/RADAR JOGJA

Belum lama Ayu memimpin lembaga arsip daerah. Terhitung sejak dia dilantik awal Januari lalu. Namun, kepiawaiannya menarik minat wisatawan untuk datang ke Sleman tak diragukan lagi. Bertahun-tahun mengepalai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata membuat perempuan asal Bali itu kaya pengalaman dalam urusan kebutuhan wisatawan.
Nah, di lembaga barunya, Ayu mencoba mengolaborasikan pengalaman lamanya itu, dikaitkan dengan upaya membangkitkan gerakan giat membaca, khususnya bagi anak-anak. Muncullah ide wisata pustaka. Wujudnya, menggabungkan program kunjungan wisata dengan literasi pustaka. Dengan begitu, wisatawan yang berkunjung ke destinasi di Sleman secara tidak langsung turut menyelami dunia literasi yang saat ini memang belum begitu banyak peminat.
“Dikemas dengan cara yang menyenangkan agar pembaca, khususnya anak-anak tertarik. Tidak hanya berdiam diri di kelas tapi kunjungan ke lapangan,” jelasnya kemarin (12/2).
Ide penerapan strategi ini tak muncul begitu saja. Berkaca pada fenomena saat ini, dimana dunia games mampu mencuri perhatian anak dibandingan membaca buku. Anak lebih tertarik pada dunia petualangan maya dibanding berdiam diri.
Nah, wisata pustaka mengajak anak berkunjung ke perpustakaan terdekat. Diawali pembacaan beberapa cerita sejarah yang ada di Indonesia. Selanjutnya semua anak diajak mengunjungi lokasi bersejarah yang ada dalam cerita. Harapannya, anak-anak lebih bersemangat membaca karena mendapatkan pengalaman empiris.
“Dengan model ini kegiatan membaca jadi lebih menarik karena anak tidak hanya membuka buku. Tapi bisa meresapi cerita di buku dengan melihat langsung lokasi sejarah itu,” ujarnya.
Ayu optimistis, strategi yang ditempuhnya bakal menggairahkan dunia membaca. Program perdana telah diterapkan kepada siswa SD Kanisius Ngembesan, Wonokerto Turi, Kamis (9/2). Diawali dengan pembacaan dongeng legenda Bandung Bondowoso, para siswa kemudian diajak ke Candi Prambanan dan Candi Sewu.
Di kedua situs bersejarah tersebut siswa diminta menyelami ceritanya. Agar lebih mengena, para siswa bisa diminta merangkum pengalaman dan cerita perjalanannya selama kunjungan wisata.
“Pengalaman kunjungan lapangan seperti itu tentu akan berkesan bagi anak. Ada bermainnya, berpetualang tapi tetap mengedepankan konsep edukasi. Belajar dengan cara yang menyenangkan,” katanya.
Ayu bercita-cata bisa memasukkan program wisata edukasi ke semua sekolah di Sleman. Komunitas baca yang tersebar di desa-desa maupun perkotaan juga bisa mengadaptasi program itu secara mandiri.
Apalagi Sleman memiliki potensi sejarah yang besar. Beberapa cerita dalam buku juga berlatar belakang lokasi di Sleman. Premis-premis itulah yang membuat Ayu optimistis program wisata pustaka bakal menjadi unggulan di Sleman.
Di bagian lain, Ayu juga mengajak para pustakawan mengemas ruang baca secara menarik. Penataan koleksi buku harus rapi dan mudah dicari. Terlebih saat ini konten-konten kreatif bisa diadaptasi menjadi sebuah tata ruang.
“Dunia baca itu sangat menyenangkan jika caranya juga menyenangkan. Apalagi dibarengi dengan pengalaman empiris. Sehingga anak tidak bosan untuk berkunjung ke perpustakaan,” tegas Ayu. (yog/mg1)

Sumber : https://www.radarjogja.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *