Meruwat Informasi

Oleh: Moh. Mursyid

Pustakawan Perpustakaan Emha Ainun Nadjib

Masifnya persebaran berita bohong (hoax) di media sosial berpotensi pada retaknya keutuhan NKRI. Berita hoax kian meresahkan karena memicu timbulnya konflik, baik konflik horizontal antara individu dengan individu lain, maupun konflik vertikal antara lapisan masyarakat dengan pemerintah. Untuk itu, atas alasan apapun berita hoax tidak dapat dibenarkan karena berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan tanah air.

Dalam rangka menyambut bonus demografi, isu hoax menjadi agenda penting untuk segera ditangani. Hal ini dikarenakan sasaran empuk dari hoax adalah generasi digital yang notabene adalah aktor dari bonus demografi. Generasi digital yang notabene setiap hari menggunakan gadget dan terhubung dengan jaringan internet memiliki risiko paling tinggi terkena berita hoax.

Hoax hadir untuk meracuni dan merusak pikiran jernih masyarakat, tidak terkecuali generasi muda, melalui teknologi informasi. APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mencatat, pada tahun 2016 terdapat 132 juta pengguna internet di Indonesia. Banyaknya jumlah pengguna internet di Indonesia menjadikan informasi berbau fitnah dan propaganda bebas menyebarluas dalam tempo waktu yang sangat singkat.

Saat ini, arus deras informasi bersumber dari internet. Jika dianalogikan, internet adalah pasar raksasa yang menyediakan bahan mentah serba ada. Itu artinya apa yang diperoleh dari internet adalah bahan mentah yang harus diolah terlebih dahulu sebelum disajikan kepada orang lain.

Pada umumnya, hoax sengaja dibuat untuk tujuan menyebarkan berita atau informasi bohong dengan maksud tertentu. Dalam kecanggihan teknologi informasi, hoax bisa diproduksi oleh siapa saja, kapan saja, dan dalam wujud beragam sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan secara jelas.

Satu informasi hoax kiranya lebih berbahaya dari satu peluru. Jika satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, maka satu informasi hoax saja bisa menembus seluruh generasi penerus bangsa. Untuk itu, tidak berlebihan jika ancaman yang timbul dari berita hoax saat ini sama dengan bahaya narkotika dan terorisme. Sama-sama berbahaya sekaligus merusak generasi dan keutuhan NKRI.

Generasi Literasi

Pada era digital, informasi menjadi kunci penting bagi kesuksesan seseorang. Semakin banyak informasi yang diperoleh, maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapatkan. Informasi ibarat makanan bagi otak. Ketika informasi itu berisi racun yang mematikan, maka ancaman kerusakan besar ibarat bom waktu yang pasti kedatangannya.

Perang melawan hoax harus terus dikumandangkan. Melawan penyebaran berita hoax tidak cukup hanya dilakukan dengan memblokir berbagai situs yang dinilai meresahkan masyarakat. Pemerintah harus menyiapkan agenda jangka panjang untuk memastikan berita hoax tidak muncul kembali, salah satunya dengan membentuk generasi literasi yang tangguh dan kritis terhadap perkembangan zaman.

Bagaimanapun, membangun Indonesia berkemajuan harus dimulai dari membangun manusianya. Untuk itu, membangun masyarakat Indonesia yang bebas hoax harus dimulai dari membangun SDM di dalamnya. Pasalnya, berita hoax tidak akan bisa menyebar luas jika tanpa ada campur tangan manusia.

Ikhtiar membangun generasi muda yang melek literasi informasi harus dilakukan. Langkah tersebut dapat dimulai dari bangku pendidikan, yang lebih mengedepankan penyadaran atas pentingnya menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran dalam setiap hal.

Pendidikan literasi informasi bisa menjadi solusi atas maraknya isu hoax. Sayangnya, di Indonesia pendidikan literasi belum menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dan perguruan tinggi. Lasa Hs (2009) menyebutkan bahwa literasi informasi ini menitiktekankan pada kesadaran akan kebutuhan informasi seseorang, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menggabungkan informasi secara legal ke dalam pengetahuan dan mengkomunikasikan ulang informasi tersebut.

Dengan demikian, generasi muda tidak akan mudah terprovokasi atas informasi yang diterimanya. Mereka bisa bersikap lebih kritis dan selektif atas setiap informasi yang diperoleh. Inilah ciri generasi literasi Indonesia.

Akhirnya, hoax adalah racun yang harus dibasmi. Ikhtiar meruwat informasi sama halnya dengan merawat generasi. Generasi yang tangguh tidak akan muncul selama di dalam dirinya terdapat racun yang mematikan bernama hoax.

Dipublikasikan pertama kali di Harian Bernas pada 17 Februari 2017

Sumber: http://cetak.harianbernas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *