Pustakawan Trendy Perlu Pahami Komunikasi Antar Generasi dan Teknologi

[Grhatama Pustaka, 17 Mei 2017] Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia DIY bekerja sama dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY dan Kubuku e-resources menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema  “Electronic Lending: Konsep Baru Layanan Perpustakaan Di Era Digital Native” pada Hari Rabu 17 Mei 2017 di Auditorium Grhatama Pustaka BPAD DIY. Hadir sebagai keynote Speech Bapak Budi Wibowo, S.H., M. M. (Kepala Badan Perpustakaan Arsip dan Daerah DIY), dengan narasumber  Dr. Neila Ramdhani, M. Si., M. Ed. (Dosen Psikologi UGM) dan Drs. Joseph Edyanto, S. E. (Direktur KuBuku dan Graha Ilmu).

This slideshow requires JavaScript.

Di hadapan pustakawan, guru, dosen, kepala perpustakaan sekolah, dan pemerhati perpustakaan, Bapak Budi Wibowo menyerukan ajakan untuk menjadi Pustakawan yang trendy, yang modern dalam berpikir dan beradaptasi dengan teknologi informasi. Pustakawan sebagai seorang elit dunia informasi mampu bekerja dalam tim dan membangun komunitasnya. Bekerja bersama mengembangkan kompetensi berbasis teknologi informasi untuk mensejahterakan masyarakat dengan fondasi literasi informasi.

Literasi informasi dan literasi digital menjadi bagian yang perlu diperhatikan oleh pustakawan trendy, pustakawan perlu mengenal inovasi terkini Electronic lending (e-lending) atau peminjaman elektronik. Praktik e-lending ini telah diterapkan di berbagai macam perpustakaan perguruan tinggi maupun perpustakaan umum, sesuai dengan platform masing-masing. E-lending ini dapat terwujud, saat beberapa aktor bermain cantik di dalamnya lingkaran hidupnya, yaitu penulis, penerbit, perpustakaan, dan masyarakat pengguna perpustakaan.

Setidaknya ada 8 Platform e-lending di Indonesia ini, dan KuBuku adalah aktor yang paling muda dalam dunia buku digital. Demikian yang disampaikan oleh Bapak Jozeph dalam topik bahasan “Dunia Penerbitan Berdamai dengan Generasi Muda dan Teknologi”. Kemajuan teknologi dan perbedaan gaya baca antar generasi ini dianggap sebagai tantangan positif dunia penerbitan, maka lahirlah KuBuku. Paltform ini dilengkapi dengan sensor plagiarisme yaitu secara otomatis mengikutsertakan data bibliografi dalam setiap sitiran yang dilakukan oleh pembacanya.

Lantas apakah buku cetak akan hilang berganti begitu saja? Menjawab pertanyaan tersebut, Pak Jozeph menyatakan bahwa Buku cetak tetap jalan, buku digital mulai diperkenalkan. Terlebih pemerintah masih mensyaratkan terbitan buku cetak untuk berbagai keperluan sertifikasi dan administrasi. Namun, Buku digital memiliki banyak kelebihannya yaitu lebih fleksibel penerbitannya, lebih ringkas dalam penyimpanan, real time laporannya, dan fleksibel waktu pembacaannya, serta dapat diakses secara bersama-sama sekaligus untuk menghindari kekurangan bahan bacaan bagi pengguna perpustakaan.

                Hal serupa juga disampaikan oleh Bu Neila Ramdhani (Dosen Psikologi), yang  menyampaikan materi “Beda Generasi, Beda Gaya Belajar, Beda Gaya Bacanya”. Beliau menyampaikan bahwa saat ini masih ada beberapa generasi yang lebih suka menggunakan literatur cetak, namun beradaptasi dengan literatur digital karena kemajuan teknologi informasi tak terelakkan lagi.

Lantas, siapa yang harus memahami siapa? Generasi x memahami y dan z, ataukah generasi z memahami generasi di atasnya? Menurut Ibu Neila, karena generasi x pernah muda, maka perlu memahami kebutuhan dan mencoba berkomunikasi dengan dari generasi di bawahnya. Selanjutnya komunikasi yang baik akan membawa pemahaman antar generasi tersebut. Hal ini penting, karena menyangkut pada aspek yang lebih luas di dunia perpustakaan, seperti kebijakan yang berpihak pada beberapa generasi sekaligus, teknik berkomunikasi dalam pelayanan, dan media informasi yang tepat untuk meraih perhatian banyak genarasi.

Bersamaan dengan acara Seminar Nasional ini, dilakukan acara penyerahan Sertifikat Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah  Angkatan I kepada 24 peserta dari berbagai sekolah di seputar Daerah Istimewa Yogyakarta dan Magelang. Sertifikat diserahkan oleh Kepala BPAD DIY, dengan didampingi oleh Ketua IPI DIY. Diklat ini merupakan bekal bagi kepala perpustakaan sekolah untuk dapat melakukan program kreatif perpustakaan dan mensukseskan gerakan Literasi di Sekolah. (NCW)

2 thoughts on “Pustakawan Trendy Perlu Pahami Komunikasi Antar Generasi dan Teknologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *